BAGIAN PROTOKOL DAN KOMUNIKASI PUBLIK

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Berita

Bepelas Malam Pertama, Bupati Ikut Menari Ganjur

date_range 10 September 2019 | Oleh : Medsi01
Bepelas Malam Pertama, Bupati Ikut Menari Ganjur

FOTO Bupati Kukar Edi Damansyah (sarung merah hitam) saat didaulat be-Ganjur, sebelum ritual utama Bepelas oleh Sultan H Aji M Arifin menaruh kaki nya di Gong Raden Galuh (prokom)

TENGGARONG -Dalam gelaran adat Erau, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura pada malam harinya menggelar upacara adat Bepelas. Bepelas merupakan upacara sakral yang wajib dilaksanakan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura setiap malam selama berlangsungnya pesta adat Erau.

Bepelas mulai dilaksanakan pada malam hari, setelah pada pagi harinya dilaksanakan upacara adat Mendirikan Ayu (disebut juga Sangkohpiatu, merupakan tombak pusaka Kesultanan Kutai). Pada Bepelas malam pertama Erau 2019 ini, Minggu (8/9) malam di Keraton atau Museum Mulawarman Tenggarong, dihadiri Bupati Kutai kartanegara Edi Damansyah.

Bepelas diawali dengan pembacaan mantra oleh salah seorang Dewa (perempuan ahli mantra dalam adat Kutai), mantra tersebut dimaksudkan untuk menjaga dan menambah kewibawaan Sultan, kemudian yang  dilanjutkan prosesi beberapa tarian oleh para Dewa sambil mengelilngi Ayu. Setelah itu, giliran kerabat Kesultanan membawakan tarian Ganjur mengelilingi Ayu, beberapa tamu juga didaulat untuk membawakan tarian ini, diantaranya Bupati Kukar Edi Damansyah. Tari be-Ganjur ini merupakan salah satu rangkaian dalam upacara adat Bepelas, yang bermakna meronda atau menjaga Ayu.

Meski tak biasa menari dan tampak kaku, Edi tetap berusaha mengikuti dua penari lainnya untuk membawakan tarian sakral Keraton Kesultanan Kutai yang dibawakan secara perlahan sambil membawa properti mirip senjata gada berundak-undak. Usai be-Ganjur, Sultan H Aji M Arifin tiba di ruang Setinggil atau ruang utama Keraton dengan diiringi para kerabat dan seorang pemain suling untuk melakukan ritual utama Bepalas. Pada puncak prosesi Bepelas itu, saat Sultan menginjakkan kakinya ke Gong Raden Galuh, bersamaan dengan itu pula suara ledakan terdengar dari arah dermaga depan museum Mulawarman, sebagai tanda untuk masyarakat bahwa Sultan sedang melakukan Bepelas.

Bepelas malam pertama tersebut diwarnai dengan sekali ledakan. Suara ledakan akan bertambah sesuai bertambahnya malam atau hari pelaksnaan Erau. Kerabat Kesultanan mengatakan, Bepelas bermakna untuk mendoakan raga dan sukma Sultan dari ujung rambut sampai ujung kaki agar dapat memimpin rakyat dengan sebaik-baiknya dengan berwibawa.

Usai Bepelas, Sultan pun mengajak tamu dan undangan ke ruang tengah untuk makan bersama di ruang makan keraton. Usai jamuan makan, persembahan tari – tarian dilanjutkan di ruang Setinggil Keraton, para tamu undangan khususpun ikut didaulat menari bersama kerabat Kesultanan yakni Tari Kanjar Bini. (medsi01)*

Terkait

BERITA Lainnya