BAGIAN PROTOKOL DAN KOMUNIKASI PUBLIK

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Berita

Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Gelar Prosesi Beluluh

date_range 05 September 2019 | Oleh : Medsi02
Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Gelar Prosesi Beluluh

FOTO Sultan Adji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningrat saat lakukan prosesi Ritual Beluluh

TENGGARONG -Prosesi adat Beluluh menandakan Erau Adat Kutai akan segera dimulai, upacara sakral diruang utama Kedaton kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini dilaksanakan pada, Rabu (04/09/2019) pagi. Beluluh kali ini merupakan momen perdana Haji Aji Muhammad Arifin sebagai Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menggantikan ayahnya HAM Salehoeddin II yang sudah meningal dunia beberapa waktu lalu.

Upacara sakral tersebut dihadiri Sekretaris Daerah H Sunggono, unsur Forum Koordinsi Pimpinan Daerah Kukar, para Kerabat Kesultanan Kutai, serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Kukar. Prosesi Beluluh diawali pembacaan memang (mantera) oleh seorang Belian (sebutan untuk tokoh laki-laki spritual Adat Kutai yang ahli mantera). Kemudian, Sultan HAM Arifin beranjak menuju balai yang berada di tengah Kedaton. Balai tiga tingkat yang kemudian diduduki Sultan itu terbuat dari haor (bambu) kuning yang memiliki 41 kaki. Sambil duduk diatas Balai dan diiringi mantera-mantera, Sultan diberikan tempong tawar dan air bunga oleh Dewa (sebutan untuk tokoh wanita spritual Adat Kutai yang ahli mantera)

Disela-sela beluluh, Sekretaris Daerah Kabupaten Kukar H Sunggono beserta unsur Forkopimda didaulat melakukan ritual Ketikai Lepas yang bermakna melepaskan segala unsur yang tidak baik. Sekretaris Daerah H Sunggono mengatakan prosesi adat Erau tahun ini dilaksanakan sama seperti tahun-tahun sebelumnya namun tahun ini yang berbeda dari acara adat erau yakni dilaksanakan tidak digabung atau dilaksanakan bersama dengan acara International Folklore Art Festival (IFAF), menurutnya peserta dari kegiatan ritual adat Erau lebih kepada unsur-unsur kecamatan. “Kegiatan ritual Adat Erau dilaksanakan tidak digabung dengan kegiatan IFAF, tentunya agar prosesi ritual adat Erau lebih difokuskan kepada unsur-unsur kecamatan,” ujar H Sunggono.

Setelah Beluluh dilakukan, acara ditutup dengan do`a yang dipimpin seorang Kerabat Kesultanan lalu dilanjutkan dengan makan bersama. Selanjutnya setelah prosesi Beluluh dilaksanakan, sore harinya pihak Kesultanan Kutai Kartanegara melaksanakan Ritual Menjamu Benua atau memberikan makan Benua. Menjamu Benua sendiri bertujuan untuk memberikan jamuan atau sajen berupa pisang, ayam, nasi ketan, dan kue-kue tradisional kepada roh-roh leluhur untuk mengabarkan bahwa Erau akan digelar. (Medsi 02)*

 

Terkait

BERITA Lainnya