BAGIAN PROTOKOL DAN KOMUNIKASI PUBLIK

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Berita

Meski Tak Lagi Muda, Tetap Semangat Mengajar Membaca Quran

date_range 21 Februari 2019 | Oleh : medsi09
Meski Tak Lagi Muda, Tetap Semangat Mengajar Membaca Quran

FOTO Marsinah saat mengajari anak-anak mengaji.

KEDUABELAH tangannya diangkat sejajar sedikit di bawah dagu dan dirapatkan dengan posisi bagian telapak tangan menghadap ke atas, tampak bibirnya yang mulai mengkerut bergerak tanda mengucap sesuatu harapan namun tidak terdengar. Hanya dia yang mengetahui harapannya saat menyudahi salat Ashar dengan doa yang dilakukannya di sebuah kamar berukuran 3x4 meter berlapis flywood atau tripleks yang mulai terkelupas itu.

Dengan sedikit terengah Marsinah berupaya bangkit dari sajadahnya yang digelar diatas tilam kapuk, sambil berpegangan di lemari di sampingnya untuk membantu mengangkat tubuhnya berdiri. Maklum, di usianya yang sudah lewat dari 60 tahun dirinya mulai sedikit kesulitan untuk berdiri. Setelah menanggalkan mukena yang warnanya tak seputih kala waktu baru dibeli di pasar Selasa Loa Kulu dulu, dengan jilbab putih lebar nenek sembilan cucu tersebut keluar kamarnya dan menghampiri anak-anak usia SD yang telah menunggunya.

Setelah kembali duduk bersila, nenek yang telah ditinggal suaminya menghadap Ilahi Rabbi pada Januari 2008 silam itu, lalu memandu anak-anak tadi membaca Bismillah. Satu persatu anak-anak tadi di ajarinya membaca Al-Qur'an. Ya, memang di lingkungannya, ibu dari tiga anak laki-laki tersebut dikenal sebagai guru mengaji atau membaca Al-Qur`an.

"Sejak saya mulai beranjak remaja sudah membantu mengajari anak-anak sini mengaji, sampai sekarang," ujarnya saat ditemui usai membagi pengetahuannya membaca Al Qur`an di kediamannya dekat jembatan Sungai Pelai, Jl A Yani, Desa Sepakat, RT 4 Loa Kulu, baru-baru ini. Dirinya bahkan tidak mengetahui pasti berapa orang yang sudah tamat 30 juz ketika belajar dengannya.

"Banyak, rata-rata anak-anak disini ngaji dengan saya. Ada yang dulu saya ajari skarang sudah jadi nenek, kemudian anak hingga cucunya sekarang tetap kesini belajar dengan saya," ujarnya sambil tersenyum. Ketika ditanya apakah ada tarif tertentu, Marsinah hanya tersenyum. "Pokoknya setiap anak yang kesini saya ajari, tak ada pembicaraan pitis (adalah bahasa Kutai yang berarti uang). Saya tidak pikirkan pitis, yang penting anak-anak mau belajar saya senang, saya ikhlas," ungkap nenek yang sudah melaksanakan ibadah haji tahun 2007 lalu. Tapi menurutnya, ada saja orang tua yang menitipkan amplop untuk dirinya. "Ya saya terima saja, Alhamduillah, isinya tidak menentu, ya cukuplah untuk bayar tagihan listrik," katanya. Tak lama setelah obrolan itu, datang anak lainnya yang menggunakan jasanya untuk belajar membaca kitab suci ummat Islam tersebut.

Tak hanya setelah Ashar, lebih banyak anak-anak yang datang kerumahnya selepas Maghrib. "Iya, kadang pagi juga ada karena anak-anak ada yang masuk siang sekolahnya jadi pagi mengaji kesini, makanya biar anak-anak saya sudah tidak tinggal serumah dengn saya lagi, disini tetap saja ada anak-anak," ujarnya sambil melanjutkan tugasnya. Di ruang tamu beralas karpet hijau, dengan dinding kayu yang mulai lapuk dicat berwarna kuning, tampak bagian bawahnya ada noda kecokelatan tinggi sejengkal akibat bekas terendam air karena air pasang tiba, di situ Marsinah tampak serius mengajari murid-muridnya.

Di rumah itu juga menurutnya sudah beberapakali diadakan syukuran khatam AL-Quran. Tampak diatas lemari kaca setinggi dada orang dewasa, terdapat dua buah piala yang bentuknya mirip gelas bertutup kerucut bertangkai di kedua sisinya, saat diangkat piala setinggi 30 cm tersebut lumayan berat karena terbuat dari logam asli. "Itu adalah hasil saya dan adik saya ketika kerap ikut MTQ tigkat kabupaten ketika kami masih anak-anak dulu," katanya. Selain itu, ada piala-piala lainnya yang tampak sedikit lebih moderen terbuat dari plastik yang berwarna emas namun catnya sebagian sudah terkelupas. "Nah yang itu ada piala anak saya ketika ikut MTQ, dan yang tinggi itu ada hasil festival Rebana juga," ujarnya.

Pantas saja, disamping lemari tersebut ada alat-alat musik rebana rupanya kediaman ibu yang lebih dikenal dengan panggian Mbok Mar dikampungnya tersebut, juga merupakan tempat latihan rebana anak-anak dikampungnya sejak dulu. Sampai kapan mengajari anak-anak mengaji? Mbok Mar mengatakan dirinya akan terus membantu membaca Al-Qur`an jika masih ada anak-anak yang datang dan jika masih diberi kesempatan oleh Allah SWT. "Kalau masih diberikan nikmat sehat dan nikmat umur, InsyaAllah saya akan terus membantu anak-anak supaya bisa membaca kitab suci kita," demikian ungkapnya. (medsi09)

 

Terkait