BAGIAN PROTOKOL DAN KOMUNIKASI PUBLIK

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Berita

Guru di Kukar Didik Para Siswa Berpikir Ilmiah Sejak Dini

date_range 31 Januari 2019 | Oleh : Medsi07
Guru di Kukar Didik Para Siswa Berpikir Ilmiah Sejak Dini

FOTO Beginilah suasana penerapan metode mikir ilmiyah sejak dini di SDN 003 Tenggarong. (Foto: Ist)

TENGGARONG -Para sekolah di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berlomba-lomba menciptakan lingkungan berpikir ilmiah yang mampu membuat siswa sejak dini terdorong suka bertanya, berpikir kritis dan suka melakukan percobaan-percobaan. Bahkan mereka juga lebih cakap dalam mengomunikasikan nalar berpikirnya, lebih suka membaca, menulis dan bahkan membuat model-model karya siswa sendiri, mengadopsi atau mengembangkan dari yang sudah ada.   
 
Salah satunya dilakukan oleh SDN 003 Tenggarong yang mengubah pola pembelajaran mengadopsi program Tanoto Foundation dengan pendekatan MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi dan Refleksi) serta menciptakan suasana ilmiah di kelas dengan metode pembelajaran aktif. “Untuk membuat siswa menjadi kritis, diawali dengan menumbuhkan kemampuan dan kebiasaan bertanya. Seperti saat pembelajaran tentang daur hidup hewan. Menyuruh siswa kelas empat membaca senyap terlebih dahulu bacaan dari internet,” kata Kurnia Astuti, guru kelas IV SDN 003 Tenggarong, Senin (28/1/2019).
 
Menurut Kurnia, membagi dadu yang terdirid ari 8 kelompok siswa di kelas tersebut.  Masing-masing kelompok siswa terdiri dari 4 – 5 orang. Kalau dilempar dan yang muncul dadu satu berarti kelompok harus menyusun pertanyaan dengan awalan apa,  dadu dua siapa, tiga dimana, empat kapan, lima mengapa dan enam bagaimana, berdasarkan bacaan yang sudah dibaca. “Kemampuan bertanya mereka menjadi makin terasah karena sering saya lakukan seperti ini. Mereka bermain sambil menyusun kalimat untuk menanyakan lebih jauh, kadang bahkan diluar teks,” ujar bu Kurnia.  
 
Menurut Kurnia, pendidikan modern juga menuntut siswa tidak sekedar mengetahui, memahami dan menerapkan apa yang diketahuinya, tapi juga mampu menganalisis, mengevaluasi dan lebih jauh lagi mengkreasi. “Sejauh ini, model ceramah hanya membuat siswa pada tingkat mengetahui, tidak sampai pada analisis,  evaluasi, apalagi mengkreasi, padahal era industry 4.0 yang segera hadir di hadapan kita butuh manusia-manusia kreatif,” ujarnya.
 
Untuk mencapai kompetensi tersebut dalam pembelajaran tentang daur hewan, ibu Kurnia, meminta para siswa membawa jentik nyamuk, kucing dan beberapa hewan lain. Para siswa diminta langsung mengamati hewan tersebut sambil diajak membedakan antar siklus hidup nyamuk dan ikan. “Idealnya penelitian ini dilakukan beberapa hari, namun dengan cara membuat siswa mengamati, membuat pertanyaan dan mencoba menjawab sendiri, anak-anak dikondisikan untuk suka meneliti semenjak dini,” ujar Kurnia.
 
Untuk melatih kecerdasan motoriknya, Kurnia juga meminta siswa menggambar hewan yang diamati. Mereka juga diminta melaporkan di depan kelas hasil pengamatan beserta gambar yang sudah mereka lukis. “Anak-anak saya biasakan juga tampil ke depan, karakter percaya diri penting untuk menghadapi persaingan hidup ke depan,” ujarnya.
 
Sementara itu Mustajib, Spesialis Komunikasi Tanoto Foundation Kaltim mengatakan, tidak ada penemuan-penemuan besar, kecuali dihasilkan dari penelitian-penelitian. “Anak-anak yang semenjak dini dikondisikan untuk suka meneliti, besarnya akan lebih kreatif dan inovatif. Guru juga harus mampu membuat siswa berpikir secara logis selama mengamati dengan membuat pertanyaan-pertanyaan panduan yang mendorong siswa melakukan pengamatan lebih detail dan menemukan pengetahuan sendiri,” ujarnya. (Medsi07)

Terkait

BERITA Lainnya