Kibasan Perisai Mahakam Di Muara Enggelam

Penulis: Admin
Kibasan Perisai Mahakam Di Muara Enggelam

Putra Daerah Kutai bisa buat film ! itu adalah kalimat yang ada dalam benak banyak orang di Kabupaten Kutai Kartanegara saat mengetahui adanya Film Perisai Mahakam. Rasa bangga dan ingin tahu pun berkembang dari percakapan keseharian ataupun melalui telpon seluler.

Promo film pun dilakukan melalui sekolah-sekolah, pun melalui media sosial. Reaksinya sungguh beragam, namun tetap terselip rasa bangga, sebagai orang suku Kutai ataupun sebagai masyarakat Kutai Kartanegara yang pluralistik.

Alam dan kultur sebagai potensi pariwisata yang ada kini tidak lagi biasa, karena terlihat eksotik dalam layar lebar. H. Ahmad Zulfiansyah, penulis ide cerita mengatakan bahwa Film Perisai Mahakam mengangkat beberapa destinasi wisata, UMKM, permainan tradisional, tarian serta adat istiadat yang akrab dalam keseharian ataupun hanya dijumpai dalam event-event khusus di Kutai Kartanegara.

Dengan lokasi pengambilan gambar di Desa Muara Enggelam, Melintang, Kedang Ipil , beberapa lokasi di Kecamatan Muara Wis dan Kecamatan Tenggarong, bukannya tanpa tujuan.

Orang Kutai tak bisa jauh dari Sungai Mahakam. Sungai purba dengan panjang hampir 1000 kilometer ini meliuk dari perbatasan negara di Kabupaten Mahakam Ulu dengan muara terjauh hingga ke kota minyak Balikpapan. Sungai yang menumbuhkan kultur, seni dan peradaban pesisir dan merangkai sejarah panjang masyarakatnya.

Dari Sungai Mahakam ini sejarah ditoreh, dalam catatan sejarah tentang kemegahan kerajaan Hindu di Muara Kaman. Juga munculnya kerajaan Islam di Kutai Lama di Anggana. Sungai ini menjadi saksi perpindahan kerajaan dari Kutai Lama ke Jembayan, dan bergeser ke Tenggarong, juga kisah penaklukan kerajaan di Muara Kaman oleh Kesultanan Kutai Kartanegara.

Kutai Kartanegara memiliki banyak permata. Sultan Adji Muhammad Idris adalah kebanggaan masyarakat Kutai. Predikat sebagai Pahlawan Nasional telah disematkan, menambah bangga para zuriatnya juga masyarakat Kutai Kartanegara. Spiritnya, Orang Kutai tidak ingin ditaklukkan, dan berjuang gigih meski harus ke negeri seberang, negeri separuh darahnya berasal, di tanah Wajo.

Seiring waktu Kutai Kartanegara mengalir bersama sejarah bangsa ini, Indonesia Raya tercinta. Dengan segala problematika dan ephoria otonomi daerah, yang kini semakin sirna. Masyarakat pun tenggelam dalam kehidupan industri ekstraktif dan agroindustri. Sungai Mahakam pun setia menjadi saksi kapal-kapal kecil hingga raksasa yang melintasinya, membawa kekayaan alam Kutai Kartanegara. Mereka yang tersisih pun bermenung, menghasilkan local wisdom untuk survive, berusaha mandiri, mendirikan bangunan walet dimana-mana.

Film perisai Mahakam merekam manis dan pahitnya sejarah dalam spirit kekiniannya, dalam zeit geist, semangat zamannya. Film ini akan tayang perdana di Kecamatan Muara Wis Jumat pekan depan. Film ini diproduksi oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, di bintangi beberapa atlet Kempo berprestasi Kutai Kartanegara.

Para pemeran dalam film ini awalnya merasa malu di tonton banyak orang saat syuting. Mereka belum pernah bermain peran. Namun berlatih dalam workshop selama 4 Hari cukup membantu mereka berekspresi dalam seni peran, begitu tutur Nila. Sang pemeran utama, Amel mengaku bahwa karakter yang diperankan sedikit berbeda dengan kesehariannya. Baginya itu menjadi tantangan tersendiri untuk dapat masuk ke dalam karakter peran tersebut.

Film Perisai Mahakam ini diharapkan mendapat dukungan dan apresiasi dari seluruh masyarakat khususnya masyarakat Kutai Kartanegara, dapat mengangkat potensi Wisata di Kutai Kartanegara. Kelak jika kekayaan alam ini tak lagi produktif, pariwisata adalah modal terbesar yang dimiliki masyarakat Kutai Kartanegara.

Sungai Mahakam akan menjadi saksi pekan depan, di Muara Wis. Kawasan pedalaman mahakam, dengan pencapaian masyarakatnya yang luar biasa dalam mengatasi problematikanya. Muara Enggelam memang pantas mendapatkan kehormatan menjadi lokasi pemutaran perdana film Perisa Mahakam.

Orang Kutai mulai merangkai semangatnya, meredefinisi identitasnya. Tak cukup dengan kekaguman kebesaran masa lalu. Kini mereka melihat ke depan, dengan pemahaman histori yang mereka pahami dan miliki, melangkah maju, kini berperisai mengikuti arus sejarah masa depannya. Ditangan mereka arah negeri ini berada.

Berita Lainnya