Hadapi Stunting, Muara Enggelam Kembangkan Hidroponik

Penulis: Admin
Hadapi Stunting, Muara Enggelam Kembangkan Hidroponik

Muara Enggelam adalah Sebuah desa di kawasan Kecamatan Muara Wis yang hanya bisa diakses dengan moda transportasi air. Kondisi terisolir secara geografis ini membawa persoalan-persoalan bagi warga masyarakatnya.

Lokasi Desa Muara Enggelam ada di Danau Melintang, dan tidak memiliki daratan sehingga tidak memungkinkan warga untuk bercocok tanam. Akses menuju desa yang berjarak sekitar 76,5 kilometer dari Tenggarong. Satu-satunya transportasi menuju Desa Muara Enggelam adalah perahu. Kondisi ini membuat kebutuhan pangan sulit masuk.

Salah satu persoalan yang muncul akibat isolai wilayah tersebut adalah munculnya kasus stunting akibat kurangnya asupan gizi pada balita. Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Desa Muara Enggelam, Nurul Huda membenarkan bahwa sejumlah warganya mengalami stunting.

Menyiasati masalah tersebut, penduduk bersama Pemkab Kukar mengembangkan hidroponik. PKK Desa Muara Enggelam bersama Dinas Pertanian dan Peternakan Kukar mengembangkan hidroponik di kawasan tersebut mulai tahun 2017 silam. Mereka membudidayakan sayur-sayuran seperti selada dan pakcoy. Pada 2019 kegiatan hidroponik ini dikelola tim posyandu terpadu setempat agar lebih efektif.


“Sayur mentah atau yang sudah diolah kami bagikan kepada warga, khusunya kepada ibu hamil, ibu yang memberikan asi, dan lansia. Sayuran hidroponik yang ditanam kini punya manfaat lebih bagi warga desa,” papar Nurul Huda.

Hasilnya kasus stunting balita menurun. Berdasarkan data Posyandu Desa Muara Enggelam tahun 2017 terdapat 38 orang mengalami stunting. Tahun 2019 turun menjadi 27 orang. Dan pada 2021 ini, tercatat 21 orang.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura dari Distanak Kukar Sugiono menyampaikan bahwa pihaknya memang tengah mengembangkan hidroponik di sejumlah desa yang mengalami kesulitan bercocok tanam menggunakan media tanah. Ini dilakukan agar kebutuhan gizi warga tetap terpenuhi sehingga terhindar dari masalah gizi buruk.

Dikemukakan oleh Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura bahwa pihaknya memberikan sosialisasi dan pelatihan cara menanam menggunakan media air kepada masyarakat yang hidup d wilayah perairan dibeberapa wilayah. Disampaikannya bahwa Distanak Kukar juga segera menyalurkan bantuan instalasi hidroponik kepada warga Tenggarong Seberang.

Kabid Sugiono juga menyampaikan bahwa selain bermanfaat untuk kesehatan, tanaman hidroponik juga memiliki nilai ekonomis tinggi. Dijelaskannya bahwa warga menjual selada dan pakcoy seharga Rp. 5 ribu per pak. Jika memiliki 100 lubang tanam, maka warga bisa mendapatkan Rp. 500 ribu. Masa panen hidroponik pun hanya berkisar sebulan, dan masuk kategori organik.

Sekertaris Distanak Kukar Syah'rani mengatakan bahwa menanam hidroponik sangatlah mudah. Pembudidaya cukup memperhatikan kandungan nutrisi dan PH dalam air yang menjadi media tanaman. Pengukuran tingkat keasaman atau alkalinitas (pH) dan part per million (PPm) airnya menggunakan alat total dissolved solids (TDS) meter.

Selain menggunakan paralon, menanam hidroponik juga bisa menggunakan styrofoam sebagai lubang dan kolam sebagai wadah airnya. Cara seperti ini dikenal dengan sebutan sistem wick. Ditegaskannya bahwa hidroponik memang cocok diterapkan pada wilayah dengan lahan daratan terbatas atau daerah rawan banjir.

Berita Lainnya