Mereka Yang Ada Di Garis Depan Dimasa Pandemi

Penulis: Admin
Mereka Yang Ada Di Garis Depan Dimasa Pandemi

Di dalam Puskesmas Loa Ipuh Tenggarong, Dokter Yance Taroreh duduk sambil mengamati layar telepon selulernya. Ada pesan masuk dari aplikasi whatsapp, dari group para nakes yang terhubung dengan nomor hotline Gugus Tugas Pelayanan Covid-19 Kukar. Ada laporan dari warga yang merasakan gejala covid-19 dan perlu ditindaklanjuti dengan kunjungan nakes.

Di sekitarnya hanya ada beberapa staf, Wawan seorang sopir ambulance dan Yeni seorang perawat. Maka dokter Yance memberitahu adanya pasien yang harus dikunjungi untuk pemeriksaan. Disebutkan nama pasien dan alamatnya. Bergegas mereka melakukan sterilisasi tangan, dan menggunakan sarung tangan 2 lapis, memakai baju hazmat, dan face shield. Masker 2 lapis sudah sejak awal terpasang.

Bergegas mereka menuju ambulance dengan membawa alat-alat kedokteran yang portable, juga berkas. Mereka pun berangkat menuju rumah pasien. Dari dalam halaman puskesmas, mereka telah membunyikan sirine, melaju kencang.

Hari itu mereka datang ke wilayah Bensamar, pinggiran kota Tenggarong. Lokasi rumah pasien ternyata tidak dapat diakses dengan mobil. Mereka bertiga pun turun, memasuki gang sempit, melewati jalan kayu berupa jembatan karena dibawahnya adalah rawa-rawa.

Mereka mengetuk pintu. Nampak wajah cemas keluarga pemilik rumah. Disampaikannya kepada team dari puskesmas loa Ipuh Tenggarong bahwa keluarga mereka mengalami keluhan seperti gejala umum terinfeksi covid-19. Dokter Yance dan Yeni pun datang ke ruangan pasien. Mereka memeriksa tekanan darah, mengukur suhu tubuh dengan termometer dan mengukur saturasi oksigen dengan oksimeter yang dipasang di ujung jari pasien. Mereka pun melakukan test antigen. Suhu tubuh para nakes dalam baju hazmat pun meningkat karena mereka dalam ruang tertutup.

Semuapun berharap sekaligus cemas melihat test pack covid-19. Indikator pun menunjukkan positif. Dari kondisi pasien yang lemah dalam usia tua, maka Dokter Yance pun memberikan rujukan agar pasien dapat dirawat di RSUD A. M. Parikesit di Tenggarong Seberang. Setelah berkoordinasi dengan pihak keluarga dan RSUD A. M. Parikesit terkait ketersediaan tempat tidur, mereka pun membawa pasien ke RSUD A. M. Parikesit di Tenggarong Seberang.

Sesudahnya mereka pun kembali melaju ke rumah pasien yang lain, membawanya ke RSUD A. M. Parikesit, berkali-kali dalam sehari. Mereka lapar, namun karena tanggung jawab hilang selera makan mereka, pun mereka berfikir potensi terinfeksi jika melepas baju hazmat.

Tidak semua pasien bisa mereka layani, adalah kenyataan yang terjadi. Faktor kelelahan ditambah panasnya suhu di dalam baju hazmat membuat mereka cepat mengalami dehidrasi, cepat lelah. Saat membuka baju hazmat, baju yang mereka pakaipun basah kuyup oleh keringat. Yeni perawat yang pernah terinfeksi covid-19 kategori berat pun mengalami hipoxia, kondisi kurangnya oksigen di dalam darah. Seringkali Yeni menjadi sangat lemas dan mengalami mual dan muntah-muntah.

Dimasa gelombang dua serangan pandemi covid-19, mereka bekerja ekstra keras. Banyak nakes yang juga terpapar dan terinfeksi virus. Di medio Juli hingga Agustus adalah puncak serangan covid-19. Pernah saat membawa pasien ke RSUD, mereka harus mengantri hingga 4 jam karena tidak tersedianya tempat tidur. Terpaksa pasien harus tetap berada di dalam ambulance dan disupplai oksigen.

Team ini sangat solid, saling dukung, dan saling bantu satu sama lain meski mereka berbeda-beda keyakinan. Mereka pun bersama membuat laporan, sambil bercanda melepas ketegangan dan kejenuhan, melepas lelah setelah bertugas. Setelah melepas baju hazmat, mereka melakukan sterilisasi dan beristirahat sejenak di puskesmas. Sesudahnya mereka pulang, mandi dengan sabun yang mengandung desinfectan.

Mereka bercengkerama dengan keluarganya, namun dengan menjaga jarak, kondisi yang berat yang harus dijalani banyak keluarga nakes di masa pandemi ini.

Saat makan mereka menerawang, mengingat dan merenungkan kejadian-kejadian yang mereka alami seharian di tempat kerja dan di rumah pasien dan rumah sakit. Banyak kesedihan dan kepiluan. Tak sedikit pasien yang mereka tangani akhirnya tak tertolong lagi. Hoax dan ketidakmengertian pasien dan keluarga pasien membuat pasien terlambat tertangani.

Nakes Yeni memiliki 2 orang anak, saat pulang anak bungsunya ingin memeluknya, namun dilarang dan dihindarinya. Bertentangan dengan nalurinya sebagai seorang ibu. Namun demi menjaga anaknya dari potensi penularan, dia melakukannya. Sungguh pilu hatinya, anaknya pun menangis merindukan belaian ibunya yang lama meninggalkan rumah. Itu hanya sedikit fragmen kecil dalam kehidupan rumah tangga para nakes di masa pandemi covid yang tidak banyak orang tahu.

Malam menjelang, mereka membawa beban itu dalam tidurnya. Yeni mungkin sedikit berbeda. Sebagai penyintas covid-19, dia mengalami susah tidur. Pukul 3 pagi setelah berdoa malam, dia baru bisa tidur. Hanya beberapa jam saja tidurnya. Pagi hari dia bergegas kembali ke tempat kerja, menjalankan tugas kemanusiaannya merawat kesehatan warga, kembali melihat kepiluan, mendengar dan melihat tatapan kepasrahan dan penuh harap pada mata pasien dan keluarga pasien.

Nakes Yeni menceritakan bagaimana dia mengenali makna tatapan mata pasien yang diabaikan keluarganya saat mereka terinfeksi covid-19, pun juga tatapan pasien yang akan meninggal. Kesedihan, empati, dan kepiluan harus mendampingi mereka yang akan berpulang menorehkan kepiluan tersendiri dihatinya.

Para nakes itu, berjuang dengan segala pengetahuan, keterampilan dan tenaganya, juga perasaannya. Mereka masih juga harus kecewa membaca media sosial yang memuat pendapat dan komentar yang negatif tentang penanganan pasien covid, pun pendapat-pendapat dan tuduhan negatif netizens di media sosial tentang institusi kesehatan. Hal yang lebih parah adalah perspektif konspirasi netizens yang jauh dari fakta dilapangan tentang covid-19.

Para nakes itu telah berjuang untuk kemanusiaan, merawat pasien dalam batas ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki. Mereka telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya untuk kepentingan pasien. Sungguh layak mereka mendapat penghargaan atas pengorbanan dan kerja keras mereka di masa pandemi covid-19 ini.

Pandemi ini begitu memilukan bagi banyak orang, bagi banyak keluarga. Kehidupan menjadi tidak lagi normal sebagai sebuah keluarga, sebagai kelompok masyarakat, pun demikian juga dalam memberikan pelayanan publik. Pandemi ini telah mengubah banyak hal, mengubah peradaban manusia dalam banyak bidang kehidupan.

Berita Lainnya

Kadis Kominfo Kukar Ultah, Sekda Kukar Beri Ucapan Selamat

Kadis Kominfo Kukar Ultah, Sekda Kukar Beri Ucapan Selamat

Polres Kukar Salurkan Bansos Untuk Warga Terdampak PPKM

Polres Kukar Salurkan Bansos Untuk Warga Terdampak PPKM

PENGUMUMAN

PENGUMUMAN

KPAD Kukar Beri Paket Sembako ODHA

KPAD Kukar Beri Paket Sembako ODHA

Video

Infografis

Terbaru

Kadis Kominfo Kukar Ultah, Sekda Kukar Beri Ucapan Selamat

Kadis Kominfo Kukar Ultah, Sekda Kukar Beri Ucapan Selamat

access_time Jumat, 24 September 2021

Polres Kukar Salurkan Bansos Untuk Warga Terdampak PPKM

Polres Kukar Salurkan Bansos Untuk Warga Terdampak PPKM

access_time Kamis, 23 September 2021

PENGUMUMAN

PENGUMUMAN

access_time Kamis, 23 September 2021

KPAD Kukar Beri Paket Sembako ODHA

KPAD Kukar Beri Paket Sembako ODHA

access_time Rabu, 22 September 2021

Populer