PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan

Jl. Wolter Monginsidi No.1 Tenggarong 75511 - Kutai Kartanegara - Kaltim

Selasa, 14 November 2017

10:30:12 AM

WEBMAIL    BUKU TAMU    E-PANEL

Adat Kutai Mendukung Tegakknya Moralitas

Sosial Budaya    6 tahun yang lalu   
   1632 Kali

Sumber Foto: Bayi dalam gendongan ibunya saat mengikuti prosesi upacara Nijak Tanah.(joe)

TENGGARONG – Lain ladang lain belalang, Lain lubuk lain ikannya. Peribahasa itu  mengambarkan jika adat budaya maupun kebiasaan masyarakat sedikit banyak ada perbedaan. Terutama pada penamaan  hingga tatacara yang dilakukan. Seperti adat Belenggang, Naek Ayun yang ada di komunitas masyarakat Kutai. 

Upacara adat Belenggang dan upacara  adat naek ayun merupakan satu rangkaian adat yang biasa dilakukan suku Kutai terutama di lingkungan kerabat kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.  Upacara ini diawali dengan adat Belenggang  yaitu  suatu ritual adat ketika seorang calon ibu muda yang  usia kandungan pertama kalinya  telah memasuki 7 bulan. Dalam usia kandungan seperti ini seorang ibu dianggap   riskan  baik dari segi fisik maupun psikis. Secara fisik misalnya ibu yang pertama kali melahirkan tentu anatomi tubuhnya terutama di bagian pinggang strukturnya  masih padat. Beda dengan ibu yang pernah melahirkan. Oleh sebab itu melalui upacara adat ini pinggang si ibu dalam posisi terlentang di kasur di lenggang dengan menggunakan kain sarung oleh 5 orang secara bergantian. Diharapkan dengan cara dilenggang struktur pinggang si calon ibu menjadi longgar dan akhirnya mudah saat melahirkan nanti.

Sedang  aspek psikisnys  akan  memberikan motivasi si calon ibu untuk merasa optimis  menjaga kesehatan maupun kandungannya  agar kelak dapat melahirkan secara normal dan sempurna. Usai di lenggang si calon ibu di dampingi suaminya diberi makan  5 macam kue wajib diantaranya kue wajik. Kemudian di suruh memilih satu diantara 41 macam penganan tradisional yang tersaji diantaranya getas, dodol hingga pencok.  Kue yang yang dipilih  dapat mengambarkan sifat dan watak anak yang akan lahir kelak. Sementara upacara Naek Ayu dilakukan setelah bayi  berusia 1 bulan.  Sebelum Naek Ayu bayi  diberi nama melalui upacara ritual  Tasmiayah.   Prosesi naek ayun   diiringi doa Berjanzi dan seni hadrah atau puji pujian kepada Nabi Muhammad SAW diawali  memotong  rambut pada bayi seraya ditempung tawari dengan bera kuning oleh tetuha  seperti kakek atau nenek sang bayi.

Kemudian dimasukkan ke dalam ayunan yang telah dihiasi berbagai ornamen dan aneka bunga berwarna  serta kue apam. Usai naek ayu dilakukan upacara Tijak Tanah atau menginjak tanah. Dalam upacara ini selain telapak kaki bayi diinjakkan pada  bongkahan tanah liat juga ada batu dan parang besi serta  panas dari lelehan lilin. Dengan harapan setelah dewasa bayi mampu mandiri dalam menjalani kehidupan ini. Dr Aji Qomara Hakim yang turut menyaksikan prosesi adat Kutai ini mengatakan  adat dan budaya masyarakat Kutai  harus tetap dilestarikan. “Karena memiliki kontribusi moral yang tinggi bagi tegaknya peradapan manusia,” demikian ujarnya.(hms-DI01)


TINGGALKAN KOMENTAR


Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara
Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan

Jl. Wolter Monginsidi No.1 Tenggarong 75511 - Kutai Kartanegara - Kaltim

Telp: 0541-662088 ext.314   Fax: 0541-661690
Email: humaskukar@kukarkab.go.id
Website: https://humas.kukarkab.go.id

STATISTIK KUNJUNGAN
Hari Ini24 pengunjung
Minggu Ini723 pengunjung
Bulan Ini3.805 pengunjung
Total Pengunjung26.548 pengunjung
Total Klik786.561 Kali